Sidang Pencemaran Nama Baik, Keterangan Saksi Pelapor Membuat Kaget Peserta yang Hadir

TARGETNUSA.COM | Buleleng Bali – Kasus pencemaran nama baik yang dilakukan oleh Klian Desa Adat Tunju Desa Gunungsari Kecamatan Seririt Ketut Arta, terhadap mantan Kepala Desa Gunungsari, Made Astawa, sudah pada tahapan persidangan di Pengadilan Negeri Singaraja.

Dalam beberapa kali persidangan warga Gunungsari dan beberapa tokoh dari desa Gunungsari turut hadir ke Pengadilan Negeri Singaraja memberikan dukungan mental dan suport kepada Klian Desa Adat Tunju, Kecamatan Seririt Kabupaten Buleleng.

Klian Subak/Pekaseh Desa Gunungsari Ketut Wasaba yang juga turut hadir pada persidangan tersebut merasa kaget terhadap keterangan saksi pelapor Made Astawa, yang mana Made Astawa pada saat persidangan  memberikan kesaksian mengenai terbitnya Sertifikat tanah di Desa Gunungsari yang diatasnya berdiri bangunan fasilitas umum.

“Intinya Made Astawa saat mengajukan pembuatan sertifikat tanah ke BPN Singaraja yang menurutnya adalah milik alm, Wayan Guniarma (kakek Made Astawa) tidak ada yang tahu termasuk Klian Desa Adat Tunju”, kata Klian Subak Abian Desa Gunungsari kepada Media TargetNusa, Kamis (5/11/2020).

Lanjut Ketut Wasaba, Di hadapan Majelis Hakim Made Astawa mengatakan saat pengukuran tidak ada saksi penyanding yang dihadirkan dan tidak ada pengumunan yang di tempel di desa, terkait pengajuan pembuatan sertifikat tanah yang diatasnya berdiri bangung fasilitas umum.

Kepala Desa Gunungsari Ketut Pastika berharap agar kasus ini jangan sampai lanjut ke meja hijau karena kasus ini bukanlah kasus besar, mari kita bicarakan dengan cara duduk bersama.

“Kami sebagai Kepala Desa masih mau menerima untuk menengai kasus ini agar masyarakat kami di Gunungsari dapat hidup berdampingan satu dengan yang lain”, jelasnya.

Namun kalau sudah tidak bisa untuk duduk bersama ya… apa boleh buat lanjut Pastika “saya sebagai Kepala Desa dan mewakili masyarakat, apa yang jadi kehendak Masyarakat itu yang saya lakukan,” tegasPastika.

“Seandainya saya diminta masyarakat untuk menuntutbalik kepada saksi yang memberikan kesaksian bohong, saya akan lakuan,” lanjut Pastika kepada awak media.

Sekali lagi kata Pastika, kalau bisa masalah ini jangan sampai ke jenjang yang lebih tinggi lagi mari kita selesaikan dengan duduk bersama.

“Apakah mau keluarga yang sudah jadi kebanggaan, kini hancur karena kehendak  dari anak-anaknya yang serakah akan duniawi,” bebernya.

“Semestinya itu tidak boleh terjadi, apalagi terjadi di desa kelahirannya sendiri,”kata Ketut Pastika. (Red-TN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *