Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Bali Didaulat Sebagi Narasumber Serangkaian Memperingati Hari Ulang Tahun ke-42

oleh -788 views

Denpasar, Bali –
Ditengah pandemi Covid-19 yang hingga saat ini masih mengalami penularan antara satu orang ke orang yang lainnya, mengharuskan semua pihak dan instansi terkait meminimalisir pertemuan atau kegiatan tatap muka dengan jumlah yang banyak.

Hal ini juga dilakukan khususnya saat peringatan Hari Ulang Tahun ke- 42 Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas).

Namun kegiatan peringatan tetap dilakukan, dengan melaksanakan pertemuan via virtual, dan menghadirkan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali Ny. Putri Suastini Koster sebagai narasumber.

Harga, kualitas, kuantitas tentu sangat dipengaruhi oleh sumber daya manusia yang ada, karena sebuah karya akan menjadi istimewa pada saat karya itu digunakan dengan penuh rasa bangga oleh warga penghasil karya tersebut.

“Tugas kita hanya melahirkan karya terbaik sesuai dengan ciri khas wilayah kita. Kita gunakan dulu hasil kerajinannya kemudian kita lestarikan dan kemudian baru kita pasarkan. Jangan sampai karya kerajinan yang kita buat, digunakan terlebih dahulu oleh pihak luar, dan kemudian ditiru lalu dijual dengan harga yang sangat murah”, tegas Ny Putri Suastini Koster Sabtu, 26/2/2022.

Sejak penghujung 2020 Dekranasda Provinsi Bali sudah melaksanakan upaya meningkatkan kondisi perekonomian akibat pandemi terus dilakukan dengan merangkul IKM/ UMKM yang bergerak khusus di sektor kerajinan.

“Jangan sampai menyesal kita tidak bisa mengawal kelestarian kerajinan lokal yang ada, krena sistem dan pola yang kurang tepat”, jelas Ny Putri Suastini Koster.

Jangan sampai terlalu sibuk untuk berinovasi namun lupa cara dalam melestarikan kerajinan lokal yang merupakan warisan budaya. Tetapi jangan sampai juga kita memiliki keinginan untuk melestarikan namun takut berinovasi.

“Menjaga Indonesia dari Bali, kita kuat di karya tradisi namun tetap mampu mengikuti perkembangan jaman. Dengan kata lain yang tradisi berkembang dengan inovasinya, dan yang inovasi akan tetap berakar pada tradisinya,” tegas Ny. Putri Koster.

Karena seperti yang terjadi saat ini, motif kain songket milik Bali ditemukan atau dipindah wahanakan ke bordir mesin yang produksi dalam jumlah banyak yang dijual dengan harga murah, sehingga menghancurkan pasar.

Sehingga yang harus kita lakukan bersama adalah membiarkan kain-kain tenun hidup didaerahnya sendiri, nusantara silahkan ikut menjual dan dunia silahkan memakainya, dengan tujuan mampu menembus ranah kesejahteraan.

“Karena daerah Indonesia yang kaya raya harus mampu mempertahankan kekhasannya dan saling mempertahankan kearifan lokal masing-masing wilayahnya”, imbuhnya. (Red-TN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *