Pemberdayaan Warga Binaan Lapas Perempuan Kelas II A Denpasar Di Masa Pandemi Covid-19

oleh -807 views

Denpasar -Bali
LAPAS Perempuan Kelas IIA Denpasar adalah Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Denpasar, dengan kapasitas hunian 120 orang dan saat ini dihuni oleh 168 warga binaan.

Tepatnya disebelah timur lapas Kerobokan, Jl. Intan Permai, Kerobokan, ditetapkan sebagai lapas perempuan sejak 9 Januari 2017.

Banyaknya warga binaan dengan berbagai problem pemasalahan menjadi daya tarik tim pengabdian dosen Fakultas farmasi,
Dr. apt. Puguh Santoso, S.Si., M.Biomed.
untuk mendharma baktikan pengetahuan dan hasil penelitiannya agar dapat di praktekkan oleh warga masyarakat.

Adapun permasalahan di Lapas Perempuan Kelas IIA Denpasar karena belum memiliki mitra yang mampu memberikan pembinaan kemandirian secara berkelanjutan kepada warga binaan.

“Persepsi buruk atau negatif dari pihak ketiga atau pihak eksternal terhadap warga binaan menimbulkan rendahnya antusias pihak ketiga atau pihak ekternal untuk menjalin kerjasama dengan Lapas Perempuan Kelas IIA Denpasar”, jelas Puguh Santoso.

Lebih lanjut, kata Puguh Santoso, Satu sisi, pihak Lapas Perempuan Kelas IIA Denpasar sangat berharap adanya pihak ketiga atau pihak eksternal yang bersedia bekerja sama dengan Lapas Perempuan Kelas IIA Denpasar.

“Kerjasama yang dimaksud adalah kerjasama dalam hal pembinaan warga binaan, agar menjadikan warga binaan memiliki pengetahuan maupun keterampilan yang meningkatkan usaha mandiri dan ekonomi kreatif khususnya bidang farmasi”, ungkapnya.

Solusi yang diberikan tim pengabdian fakultas farmasi Unmas adalah memberikan pengetahuan dan ketrampilan membuat produk serta pemasaran kepada 20 warga binaan membuat produk herbal seperti simplisia, minuman jamu, seduh dan sabun.

Peralatan membuat produk herbal seperti, oven blender pisau, termasuk tanaman herbal sebagai bahan baku membuat produk herbal di sumbangkan ke Lapas sebagai sarana warga binaan mempraktekkan pengetahuan dan ketrampilan yang telah diperoleh.

”Simplisia dibuat dari bahan tanaman obat keluarga (toga), kunyit, kencur, Dewandaru, jahe, yang Sebagian ada di kebun lapas”, terang Pugoh.

Beberapa tanaman bahan simplisia dan peralatan untuk pembuatan simplisia jamu seduh dan sabun cair peralatan untuk memproduksi simplisia juga diberikan guna
pelatihan di lapas.

Tim pelaksana memberikan pelatihan terkait kewirausahaan dan strategi marketing dari pelaku usaha pembuatan simplisia, jamu seduh dan sabun cair.

“Dengan pelatihan supaya warga binaan mendapatkan ilmu bagi untuk diterapkan di kehidupan bermasyrakat ketika warga binaan kembali ke tengah tengah masyarakat”, pungkas Pugoh Santoso.

Reporter :
Dr. apt. Puguh Santoso, S.Si., M.Biomed.
Editor : AS Hanafi