Pencitraan di Daratan, Krisis di Kepulauan: Potret Buram Penanganan Air BPBD Sumenep

oleh -32 views
Oplus_131072

Pencitraan di Daratan, Krisis di Kepulauan: Potret Buram Penanganan Air BPBD Sumenep

SUMENEP, TARGETNUSA.COM –
Pemberitaan media online tentang aksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumenep yang sibuk menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah daratan dan pulau-pulau dekat, berbanding terbalik dengan kondisi di ujung kepulauan.

Di Pulau Saebus, Desa Saur Saebus, Kecamatan Sapeken, warga justru menjerit. Sumur-sumur kering, air asin, tapi tak kunjung dapat perhatian dari BPBD.

Padahal, Pulau Desa Saur Saebus, Kecamatan Sapeken, yang terletak di Kabupaten Sumenep, saat ini sedang dilanda kekeringan ekstrem. Penduduk setempat yang mengandalkan air sumur sebagai sumber air utama mengalami kesulitan yang cukup besar.

Kondisi ini bukan baru. Morsalam, salah satu warga setempat mengakui bahwa setiap memasuki kemarau, sumur di pulaunya mengalami kekeringan. Namun tahun ini dinilai paling parah.

Herlianto, warga Pulau Saebus, menilai penanganan BPBD Sumenep tidak adil dan hanya berorientasi pada pencitraan di media online.

“Di media online kami lihat terus, BPBD Sumenep salurkan bantuan air bersih di darat. Bagus, kami apresiasi. Tapi kenapa Saebus tidak pernah disentuh?” kata Herlianto, Senin (6/10/2026).

Ia menyindir, BPBD Sumenep menyalurkan bantuan air bersih serta sarana pendukung kepada warga terdampak kekeringan di darat, sementara Saebus, kecamatan Sapeken yang jaraknya lebih jauh dan lebih sulit air justru dilupakan.

“Sejumlah air sumur sudah banyak yang kering,ya terpaksa mengambil air dari sumur-sumur yang jaraknya sangat jauh dengan cara memikul Situasi ini tentu sangat memprihatinkan” seperti yang dikeluhkan warga sebelumnya.

Herlianto menyebut, dikampung nya hanya ada satu sumur yang bisa dikonsumsi itupun jauh dan sudah mulai mengering satu. Jika tidak mampu beli, warga terpaksa konsumsi air sumur yang sudah payau dan keruh.

“Kami ini juga warga Sumenep. Jangan hanya yang dekat kota yang dibantu dan difoto-foto untuk berita. Kami di Saebus ini butuh air, bukan janji tandon. Tandon yang dijanjikan tahun lalu saja sampai sekarang tidak ada realisasinya,” tegasnya.

Padahal secara geografis, Desa Saur Saebus merupakan salah satu desa yang sangat rawan kekeringan karena keterbatasan sumber mata air dan terletak di dua pulau yaitu pulau Saur dan pulau Saebus yang terpisah dan dikelilingi oleh lautan sehingga sulit didapat air tawar terutama di musim kemarau.

Herlianto meminta BPBD Sumenep berhenti sibuk dengan seremoni distribusi di wilayah yang mudah dijangkau media. Ia mendesak distribusi air yang adil dan solusi jangka panjang berupa pengeboran sumur dalam atau pembangunan instalasi desalinasi air laut.

“Jangan sampai kami mati kehausan di atas pulau yang dikelilingi air laut. Kalau BPBD masih menyebut ini bukan darurat, lalu apa namanya?” pungkasnya.

Hingga berita ini diterbitkan,pihak BPBD Kabupaten Sumenep belum memberikan tanggapan resmi terkait belum masuknya Pulau Saebus dalam daftar prioritas untuk dibantu fasilitas air tahun ini. (Red/TN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *