MERASA PALING SENIOR, MENGGUNCANG LADANG YANG SEDANG TUMBUH

oleh -18 views

Opini oleh: Holib Rahman

SUMENEP – MADURA, Targetnusa.com –
Di sebuah ladang informasi yang luas, ada seorang hamba bernama Ali. Ia merasa telah melangkah lebih lama dibandingkan yang lain, menjelajahi setiap petak sawah, mengenal setiap tikungan jalan, dan merasakan pergantian musim yang berulang kali. Karena menganggap dirinya paling senior dan paling paham seluk-beluk ladang itu, ia pun berjalan menuju balai para pengelola. Di sana, ia berniat memperjuangkan apa yang diyakininya sebagai bentuk keadilan yang seharusnya didapatkan.

Namun niat yang diharapkan membawa perubahan justru melahirkan dampak yang tak terduga. Ketika ia mulai mengguncang pagar pembatas ladang, getaran yang ditimbulkan tidak hanya terasa di satu petak tempat ia bekerja. Debu halus beterbangan ke segala arah, menutupi udara yang tadinya bersih, dan membuat para petani lain yang selama ini bekerja dengan tenang ikut merasakan gangguannya. Apa yang semula hanya menjadi percakapan sederhana di sudut ladang, perlahan berubah menjadi perdebatan yang melibatkan seluruh penghuninya.

Yang terasa makin ironis, sebagian besar petani lain tidak pernah meminta pagar itu diguncang. Mereka memilih jalan yang berbeda: menyesuaikan diri dengan pergantian musim, mematuhi aturan yang berlaku, dan tetap menabur benih dengan sabar, yakin bahwa panen yang baik akan datang pada waktunya. Bagi mereka, ketenangan dan kelancaran pertumbuhan tanaman jauh lebih berharga dibandingkan kegaduhan yang belum tentu memberikan hasil nyata.

Sebuah kenyataan yang sering terlupakan: dalam sebuah ladang, usia menanam yang lebih lama tidak selamanya berarti paling mengerti kebutuhan seluruh penghuninya. Pengalaman memang menjadi bekal yang berharga, namun bukan berhak dijadikan mahkota untuk menentukan arah bagi semua orang. Demikian pula, suara yang paling keras terdengar belum tentu mewakili keinginan mayoritas.

Kini, setelah debu mereda sedikit dan perhatian banyak orang tertuju ke ladang itu, pandangan tidak lagi tertuju pada satu persoalan saja, melainkan pada seluruh hamparan sawah. Sebagian petani mulai bertanya-tanya dalam hati: apakah keguncangan yang terjadi itu benar-benar membawa manfaat bersama, atau justru membuat banyak petak lain ikut terguncang dan berada dalam ketidakpastian?

Sebab kenyataannya, ketika seseorang mengguncang pagar demi memperjuangkan haknya sendiri, risikonya bisa meluas. Bukan hanya dirinya yang terancam, melainkan kenyamanan dan kelangsungan hidup seluruh penghuni ladang itu.

Dan di tengah sisa kegaduhan yang perlahan surut, tersisa satu pertanyaan yang menggantung di udara, mengajak setiap orang merenung:

Entah nikmat apa lagi yang hendak didustakan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *