Kajian Sistem Ekonomi Hindu Indonesia “DARMANOMIC” Kerjasama Unmas dan PHDI Pusat

oleh -773 views

Denpasar, Bali –
Rektor Universitas Maha Saraswati (Unmas) menyatakan terima kasih yang mendalam atas terjalainnya kerjsama dengan PHDI Pusat pada sambutan selamat datang kepada peserta Webinar Nasional Uji Publik Naskah Kajian Sabha Walaka tentang Sistem Ekonomi Hindu Indonesia (Dharmanomic).

Webinar dilaksanakan di Aula Ghanesha Universitas Mahasaraswati. Dan bertujuan untuk menyerap sebanyak mungkin masukan-masukan umat Hindu dan pakar ekonomi.

Demikian penyampaian Rektor UNMAS Denpasar, DR. Drs. Sukemerta, M.Si., secara tertulis.

“UNMAS Denpasar saat ini ada 21 program studi (prodi) salah satunmya adalah Ekonomi”, ungkapnya sembari menyampaikan kalau UNMAS Denpasar juga memiliki Magister Manajemen.

Adanya Weibinar Sistem EKonomi Hindu Indonesia menunjukkan kesungguhan UNMAS dalam upaya membangun kemandirian ekonomi Umat Hindu.

Ketua Umum Pengurus Harian PHDI, Wisnu Bawa Tanaya menyampaikan apreasiasi yang tinggi kepada Rektor UNMAS dan Yayasan yang menaungi.

Atas kiprahnya dalam Webinar Nasional ini, Ekonomi Umat harus dibangkitkan dengan memperhatikan kegiatan ekonomi tradsiional, misalnya pasar tradisional (tenten) dan tidak seluruhnya megikuti trens swalayan serba ada (mall) yang modern.

Adanya Webinar Uji Publik Hasil Kajian Walaka yang nantinya menjadi ranangan Bhisama atau Ketetapan PHDI tentang Sistem EKonomi indu Indonesia harus dapat memberi spirit pada bangkitnya ekonomi umat.

Begitu pula Ketua Sabha Walaka I Ketut Puspa Adnyana menjelaskan bahwa setiap kajian-kajian yang dihasilkan harus melalui Uji Publik, agar umat Hindu sejak awal sudah mengetahui dan mempelajari naskah-naskah yang akan menjadi ranangan Bhisam atau Ketetapan PHDI.

“Ada kebaruan yang dilakukan PHDI hasil Mahasabha XII dalam proses merumuskan ketetapan-ketetapan yang bertujuan pengaturan kepada Umat Hindu. Kebaruan itu berupa pelibatan peran serta masyarakat Hindu dalam memberikan masukan pada hasil-hasil kajian”, jelasnya.

Sebagai presenter Nyoman Wiryanata menjelaskan mengenai dasar susatra yang melatarbelakangi Sistem Ekonomi Hindu Idnonesa. Ia menyebut Dharmasya Moolam Arthah, yang diambil dari Pustaka Niti Sastra, arti harfiahnya “Ekonomi merupakan kekuatan bila diperoleh bedasarkan dharma”.

“Pada dasarnya Arta dikumpulkan untuk memenuhi kama (need), dan harus berlandaskan pada dharma”, lanjutnya.

Kepemilikan harta membuat seseorang sejahtera (jagadhita) dan karenanya dapat mencapai lokasangraha yang akhirnya moksa.

Wiryanata lebih lanjut menjelaskan spiritualitas bahwa seorang pengusaha Hindu yang sukses juga sekaligus seorang dermawan. Ia menyitir SLoka dari Atharwa Veda “Setiap orang harus mencari arta dengan seratus tangannya dan mendermakannya dengan seribu tangan”, sebut Wiryanata.

KS. Arsana, sekretaris Tim Kerja, yang memperkenalkan Sisten Ekonomi Hindu Indonesia dengan sebutan Dharmanomik. Ia mengawali dengan 4 tahap kebutuhan mendasar manusia berdasarkan Teori Maslow, yang dikaitkan dengan tujuan hidup sesuai ajaran Hindu.

Tujuan hidup menurut ajaran Hindu adalah kesejehateraan materi dan kebahagiaan rohani. Moksartham Jagadhita ya ca iti Dharma.

“Karenanya, penganut ajaran Hindu menekankan pentingnya keseimbangan hidup, seimbang antara memenuhi kebutuhan duniawi-material agar sejahtera dan memenuhi kebutuhan rohani-spiritual agar bahagia”, ujarnya.

Ajaran Moksartham Jagadhita ya ca iti Dharma tersebut selanjutnya dijabarkan dalam konsepsi Catur Puruṣārtha yang berarti empat dasar dan tujuan hidup manusia (“four objects of human pursuit”), yang terdiri dari: Dharma, Artha, Kama, dan Mokhsa. Menurut ajaran Hindu, Dharma, Artha, Kāma, dan Mokhsa inilah yang menjadi motivator manusia berperilaku.

Dharma adalah sebuah kata Sansekerta penting dalam literatur Veda yang memiliki arti sangat luas. Secara etimologi, kata Dharma berasal dari akar bahasa Sanskerta, yaitu “dhri,” yang berarti “menopang.” Arti lain yang terkait dengan istilah Dharma adalah apa yang merupakan bagian integral dari sesuatu.

Misalnya, Dharma gula adalah menjadi manis dan Dharma api menjadi panas. Dharma mengacu pada sifat asli atau karakter dari sesuatu atau seseorang.
Dharma berarti juga kebenaran atau cara hidup yang benar.

Dalam kehidupan personal, Dharma menjadi landasan untuk kita memiliki tujuan hidup yang benar, berjuang melakukan hal yang benar, hidup beretika, dan menjadi bajik, menjadi Manusia Dharmika.

Dalam kehidupan sosial, Dharma membimbing kita untuk tertib mematuhi hukum, menghargai orang lain, peduli pada sesama, dan rukun-harmonis dalam warna-warni perbedaan.

Dalam skala yang besar, dalam kehidupan semesta, Dharma mengacu pada hukum atau aturan kosmik yang menjaga alam semesta dari kekacauan. Dalam dimensi rohani-spiritual, Dharma menuntun dan menyadarkan kita akan hakikat ilahi diri kita sebagai Atman, Jiwa Agung nan Suci.

Artha mengacu pada keamanan memiliki kenyamanan material yang kita butuhkan untuk hidup di dunia. Artha, tujuan kedua dari Catur Puruṣārtha ini mendidik kita untuk mengejar kehidupan duniawi, bukan menolaknya, namun harus dilandasi Dharma.

Artha merupakan salah satu martabat dasar manusia, yaitu memiliki cukup aset untuk hidup dan merawat keluarga, hal-hal terkait ekonomi untuk kesejahteraan, tanpa menjadi serakah.

Chanakya dalam Arthaśāstra meyatakan, “Ekonomi merupakan aspek terpenting karena memberikan dasar bagi keberadaan dan kelangsungan hidup manusia”.

Artha mencakup segala sesuatu di lingkungan kita yang memungkinkan kita menjalani kehidupan yang memuaskan dan juga sarana untuk mencapainya.

Artha mencakup pengetahuan, persahabatan, keterampilan, karier, kesehatan, dan kemakmuran.

Artha yang dilandasi Dharma akan menjadikan aktivitas ekonomi untuk memiliki kenyamanan material dan kesejahteraan dilakukan dengan beretika dan pengendalian diri.

Tujuan ketiga dari Catur Puruṣārtha adalah Kāma. Kāma adalah keinginan untuk kesenangan dan kenikmatan. Keinginan untuk kesenangan inilah yang mendorong perilaku manusia. Hidup tanpa kesenangan dan kenikmatan itu hampa dan kosong.

Kāma-lah yang membawa rasa kegembiraan dalam hidup kita.
Kāma dapat berupa sensualitas, juga seni, musik, keindahan, cinta, keintiman, kasih sayang, persatuan, dan kebaikan. Kāma adalah panduan untuk hidup yang bajik dan anggun.

Kāma yang dilandasi Dharma akan menjadikan aktivitas kerja menjadi menyenangkan dan menggembirakan.

Tujuan akhir dan puncak dari tujuan hidup manusia dalam Catur Puruṣārtha adalah Mokhsa. Moksha adalah kesadaran spiritual kemanunggalan Atman-Brahman, Jiwa Personal dan Jiwa Semesta.

Mokhsa berasal dari akar bahasa Sansekerta muc, yang berarti “bebas”, “melepaskan”, “membebaskan”. Mokhsa disebut juga vimoksha, vimukti, dan mukti, istilah dalam filsafat Hindu yang mengacu pada berbagai bentuk pembebasan dan pelepasan.

Dalam pengertian soteriologis dan eskatologisnya, Mokhsa mengacu pada kebebasan dari saṃsāra, siklus kematian dan kelahiran kembali. Dalam pengertian epistemologis dan psikologisnya, Mokhsa mengacu pada kebebasan dari avidya (ketidaktahuan) tentang realisasi diri dan pengetahuan diri sejati, Atman.

Mokhsa terkait dengan motivasi manusia dalam pencarian makna hidup dan kehidupan yang bahagia. Pencarian makna hidup merupakan salah satu motivator utama yang membuat manusia tetap hidup dan bertumbuh-kembang.

Konsep “Sistem Ekonomi Hindu” ini dibuat dengan tujuan menjadikan prinsip-prinsip ajaran Hindu yang tertuang di dalam pustaka suci Veda sebagai sebagai falsafah, nilai-nilai, dan landasan moral dan etika dalam gerakan di bidang ekonomi.

Menjadikan Koperasi sebagai wadah utama gerakan dan badan hukum di bidang ekonomi, dengan tetap menghargai bentuk-bentuk badan hukum lainnya di bidang ekonomi sesuai peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia.

Mendorong agar Pemerintah Republik Indonesia mau dan berani membuat terobosan-terobosan kebijakan dan regulasi di bidang Ekonomi dengan dijiwai oleh nilai-nilai Pancasila dalam bentuk “Sistem Ekonomi Pancasila”.

7. Mendorong agar pengurus Perguruan Tinggi Keagamaan Hindu (PTKH) di Indonesia proaktif dalam mengenalkan, mengajarkan, maupun melakukan kajian-kajian ilmiah tentang Sistem Ekonomi Hindu.

Mendorong agar pengurus organisasi kemasyarakatan Hindu di Indonesia proaktif dalam menjadi inspirator, fasilitator, dan teladan serta memberi pendampingan dalam pelaksanaan gerakan di bidang Ekonomi ini.

Sistem Ekonomi Hindu yang dipopulerkan dengan sebutan Dharmanomics adalah pada spiritualitasnya, yang dicirikan dengan Kesatuan Integral (Integral Unity). Kebahagiaan Berimbang (Balance Happiness). Kebebasan yang Bertanggung jawab (Responsible Freedom). Bekerja sebagai Bhakti (Work as Devotion) dan
Svadharma (Fulfill Own Duty).

Setelah paparan dilanjutkan dengan kajian dari para penanggap. Penanggap pertama Bapak Prof Dasi Astawa, ekonom yang pada prinsipnya setuju dengan muatan kajian Sabha Walaka tentang Sistem Ekonomi Hindu Indonesia.

Beliau menekankan pentingnya tetap memperhatikan pasar tradisional (pasar tenten) yang memberikan peluang bagi umat untuk terlibat pada ekonomi mikro. Penanggap berikutnya Bapak Dr. Gusti Agung Gede Teja (?) ekonomo, yang juga mengapresiasi Dharmanomic dengan penekatan pada upaya membangkitkan bukan saja Koperasi tetapi juga berbagai kegiatan ekonomi baik berskala badan hukum maupun perorangan.

Penanggap ketiga Bapak Made Mandra praktisi ekonomi. Sebagaimana Prof Dasi Astawa, beliau juga menekankan perlunya aktivitas local diberikan ruang dengan memperkuat Lembaga Perkereditan Rakyat yang kuat dan mengakar dalam masyarakat Hindu, khususnya di Bali. Untuk meningkatkannya diperlukan penerapan manajemen modern. (Red-TN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *