Gubernur Koster Berikan Piagam dan Uang Rp 50 Juta ke Sastrawan Penyair, Kartunis, Kritikus Seni Rupa, dan Seniman Penutur Cerita Rakyat Berprestasi dalam Kemajuan Kebudayaan

oleh -56 views

DENPASAR – BALI _
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Gede Arya Sugiartha menjelaskan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) III yang memiliki tema “Jenggala Sutra, Susastra Wana Kerthi “ dengan memiliki makna Semesta Kreativitas Terkini, Harmoni Diri dan Bumi dalam Keluasan Penciptaan Baru yang sudah berjalan selama 14 hari mulai tanggal 23 Oktober hingga 6 Nopember 2021 lalu.

Kegiatan festival ini dikonsep secara daring dan luring dengan venue utama di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya dan Gedung Natya Mandala ISI Denpasar.

FSBJ merupakan wujud keberpihakan Gubernur Bali, Wayan Koster kepada seniman. Sehingga dalam kondisi apapun, tetap memberi ruang kepada seniman untuk berkarya.

Terlebih selama pandemi, aktivitas seniman mandeg, maka pemerintah hadir untuk menyelamatkan hasil seni kreatif yang dimiliki oleh para seniman ini agar tidak terhenti. 

“Dalam hasil survey Kami, menyatakan seniman dan masyarakat Bali mendukung kebijakan tersebut, sehingga 96 % menyatakan terima kasih kepada Pemprov Bali, karena tetap memberi ruang kepada seniman di masa pandemi”, jelasnya.

Dalam FSBJ III, Pemerintah Provinsi Bali memberikan penghargaan Bali Jani Nugraha kepada pihak yang berprestasi dan berkontribusi luar biasa sesuai dengan prestasi dan kontribusinya dalam Pemajuan Kebudayaan.

Penghargaan yang berupa Piagam dan Uang senilai Rp 50 juta tersebut diberikan kepada, I Dewa Nyoman Raka Kusuma (Sastrawan), Drs. I Made Taro (Seniman Penutur Cerita Rakyat), I Gusti Ngurah Parsua (Sastrawan), Putu Fajar Arcana (Sastrawan), I Gusti Made Sukawidana, SS., M.Hum (Penyair), Made Gede Perama Artha (Kartunis), Alm. Syahruwardi Abbas (Penyair), dr. Dewa Putu Sahadewa, SpOG (K) (Penyair), Dr. Gde Artawan, M.Pd (Sastrawan) dan Dr. Drs. Hardiman, M.Si (Kritikus Seni Rupa).

Putu Fajar Arcana (Sastrawan) mengatakan Bali Jani Nugraha merupakan wujud apresiasi Pemerintah Provinsi Bali di era kepemimpinan Gubernur Bali, Wayan Koster terhadap perkembangan seni kontemporer di Bali.

“Apa yang dilakukan ini bukan hanya niat baik, tetapi kesadaran yang tumbuh dari pengelola kebijakan pemerintahan di Pemprov Bali terhadap perkembangan seni kontemporer yang mewadahi ekspresi-ekspresi terkini dari masyarakat Bali pada umumnya,” ujar Putu Fajar Arcana.

Sebagai pelaku seni kontemporer, maka FSBJ ini tidak boleh berhenti dan ajang ini harus digunakan sebaik-baiknya oleh masyarakat seni kontemporer Indonesia dan Bali pada khususnya.

“Ini mungkin program satu-satunya di Indonesia, yang menyelenggarakan Seni Kontemporer dalam FSBJ sesuai dengan semangat Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali,” tutupnya. (Red-TN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *