ChatGPT dan Sistem Subak: Workshop Pendidikan Biokultur melalui Kegiatan Menggambar di SMAN 1 Mengwi Badung

oleh -913 views

Gambar sualisasi sistem subak dalam bentuk sawah berteras karya seorang peserta

DENPASAR Bali, Targetnusa.com –
Subak merupakan sistem irigasi tradisional yang telah ada sejak berabad-abad di Pulau Bali, Indonesia. Diperkirakan subak sudah ada sejak lebih dari dua milenium lalu dan tetap eksis sampai sekarang.

Warisan budaya tersebut mencakup pengetahuan, nilai-nilai dan praktek kehidupan berkelanjutan yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Subak tidak hanya berperan dalam menyediakan air untuk pertanian, tetapi juga menjadi pusat kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat Bali.

Tradisi irigasi Subak memiliki tata kelola unik yang melibatkan gotong-royong, adat, dan filosofi Hindu Bali.

Keberadaan sistem Subak memperkuat identitas budaya, meningkatkan kearifan lokal, serta memperkuat ikatan sosial dan spirit spiritual dalam masyarakat Bali.

Warisan budaya ini merupakan harta tak ternilai dan menjadi ciri khas dan penting dalam melestarikan identitas dan keberlanjutan budaya Bali.

Pada saat era digital yang semakin maju, tantangan melestarikan sistem subak dan kearifan lokal lainnya menjadi semakin besar. Namun, sekolah-sekolah yang memiliki visi dan komitmen untuk menjaga budaya lokal tetap hidup terus mencari cara inovatif untuk menyampaikan pesan tersebut kepada generasi muda.

SMAN 1 Mengwi Kabupaten Badung Bali adalah salah satu sekolah yang menempatkan kearifan lokal sebagai prioritas dalam pendidikan. Sebagai upaya untuk melestarikan dan mengenalkan warisan budaya sistem subak, SMAN 1 Mengwi telah menyelenggarakan workshop dengan judul “Integrasi Pendidikan Biokultur dan ChatGPT melalui Kegiatan Menggambar Sistem Subak.”

Pendidikan biokultur adalah pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan pengetahuan tentang biologi dengan aspek kearifan lokal dan budaya dalam upaya memahami dan melestarikan ekosistem serta warisan tradisional.

Sedangkan, ChatGPT merupakan model bahasa AI dari OpenAI yang memungkinkan interaksi manusia-mesin melalui percakapan dan dapat memberikan jawaban serta informasi yang relevan berdasarkan pertanyaan atau input yang diberikan oleh pengguna.

Kegiatan menggambar merupakan aktivitas lazim pada berbagai jenjang pendidikan. Sesuai dengan konteks pendidikan biokultur kegiatan menggambar membantu siswa dalam memvisualisasikan dan meningkat pemahaman tentang konsep kearifan lokal.

Aktivitas tersebut juga dapat mendorong eksplorasi kreatif tentang aspek fisik, ekologi, sosidal dan budaya sistem subak, selain menghubungkan antara teori dan realitas lapangan.

Terkait ChatGPT, menggambar membantu mengarahkan pertanyaan atau topik secara lebuh tepat untuk memperoleh informasi yang relevan dan akurat. Dengan demikian, eksplorasi keterkaitan antara pendidikan biokultur, chatGPT, menggambar dan sistem subak selain memperkaya pembelajaran, juga sekaligus mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan budaya secara holistik.

Workshop berlangsung sehari dengan melibatkan para guru dari sekolah tersebut, dosen dan mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Unmas Denpasar.

Tujuan wokshop untuk memperkuat pemahaman tentang pendidikan biokultur dan sistem subak sebagai warisan budaya penting di Bali, dan mengintegrasikannya ke dalam pembelajaran lintas disiplin baik ilmu alam (seperti biologi dan kimia), ilmu sosial (misalnya geografi dan sejarah) maupun humaniora (bahasa dan seni).

Melalui teknologi ChatGPT, para peserta dapat mendapatkan penjelasan dan jawaban yang relevan tentang Sistem Subak, yang dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang konsep ini.

Workshop ini juga dirancang untuk mendorong kolaborasi antara para peserta dalam bentuk diskusi kelompok, memungkinkan pertukaran ide dan perspektif yang beragam.

Diharapkan bahwa melalui workshop ini, para guru, dosen, dan mahasiswa akan terinspirasi untuk menggabungkan kearifan lokal dengan pembelajaran biologi yang lebih inovatif dan bermakna.

Hasilnya diharapkan akan memberikan dampak positif dalam melestarikan kearifan lokal Sistem Subak, meningkatkan apresiasi terhadap budaya Bali, dan meningkatkan kualitas pendidikan biokultur di SMAN 1 Mengwi serta Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Unmas Denpasar.

Kegiatan wokshop tersebut berlangsung dalam tiga tahap. Tahap pertama, peserta diberi waktu 15 menit untuk menggambar secara bebas tentang Sistem Subak menggunakan kertas gambar dan spidol. Setelah itu, mereka menuliskan narasi singkat tentang gambar yang telah dibuat.

Pada tahap kedua melibatkan diskusi kelompok beranggotakan 5-6 orang. Setiap kelompok memilih salah satu gambar sebagai topik diskusi. Pemilik gambar menjadi presenter, sedangkan anggota kelompok lain berperan sebagai moderator, notulis, evaluator, dan time keeper.

Pada saat diskusi kelompok, peserta berbagi pemahaman tentang sistem subak yang diwujudkan dalam gambar dan dapat mencari bantuan dari ChatGPT untuk mendapatkan informasi tambahan.

Tahap ketiga adalah presentasi dan refleksi kelas. Salah satu kelompok ditunjuk mempresentasikan hasil diskusi mereka di depan seluruh kelas.
Workshop memberikan pengalaman yang bermanfaat bagi para guru dalam memahami dan mengapresiasi kearifan lokal Sistem Subak, serta meningkatkan kemampuan mereka dalam mengintegrasikan aspek budaya dan kemajuan teknologi ChatGPT dalam pembelajaran.

Mereka menyadari bahwa ChatGPT menimbulkan tantangan bagi tugas mereka sebagai fasilitator pembelajaran, terutama dalam melakukan evaluasi terhadap tes, ujian atau tugas yang diberikan kepada para siswanya.

Pengalaman dari workshop dapat membantu mereka menjadi pendidik yang lebih berdaya guna dan memberikan dampak positif dalam integrasi pendidikan biokultur dan ChatGPT atau teknologi AI lainnya di sekolah.

Pengalaman berharga terkait dengan MBKM juga diperoleh mahasiswa, seperti kesempatan untuk kolaborasi dan menggali potensi teknologi kecerdasan buatan dalam pendidikan biokultur.

Selain membantu pengembangan kemampuan akademik dan sikap profesional, keterlibatan juga dapat meningkatkan kesadaran mahasiswa tentang pelestarian budaya dan lingkungan.

Terlepas dari semua itu, SMAN 1 Mengwi telah menjadi perintis dalam pendidikan biokultur dalam mempersiapkan generasi muda untuk memelihara dan menghargai warisan budaya mereka di tengah arus modernisasi yang terus bergerak maju.

Diharapkan, workshop ini menjadi langkah awal dalam menginspirasi sekolah-sekolah lain untuk mengadopsi pendekatan inovatif dalam melestarikan kearifan lokal. Dengan begitu warisan budaya tak terlupakan dan tetap hidup di hati dan pikiran generasi mendatang.

Yang lebih penting lagi, kearifan lokal menjadi sumber inspirasi dan aspirasi dalam membangun masa depan untuk menjadi generasi modern dengan tetap berpijak pada identitas budaya nasional.

Reporter : Sang Putu Kaler Surata
Editor : Targetnusa