Ubud Writers & Readers Festival ke-19 Akan Dimeriahkan Oleh Penulis Muda, Seniman Hingga BudayaBali

oleh -781 views

DENPASAR – BALI
Ubud Writers dan Readers Festival (UWRF) menjadi acara sastra yang paling ditunggu-tunggu bagi para pecinta sastra di Bali dan Indonesia.

Salah satu program tahunan utama dari Yayasan Mudra Swari Saraswati ini akan diselenggarakan pada 27-30 Oktober 2022 di Taman Baca, Ubud.

Festival yang digagas sebagai langkah penyembuhan dalam menanggapi bom Bali pertama, kini bangkit kembali setelah pandemi untuk pemulihan Bali yang lebih baik melalui festival yang bertemakan Memayu Hayuning Bawana, sebuah filosofi Jawa Kuno yang bermakna ikhtiar dalam merawat, melindungi, serta memperindah segala sisi keutamaan semesta.

Pembina Yayasan Mudra Swari Saraswati yang memayungi UWRF, Dr. Drs I Ketut Suardana,M.Fil.H mengungkapkan kebahagiaannya, Kini UWRF menjadi salah satu festival penting di Bali yang memberikan ruang sebanyak-banyaknya untuk pecinta sastra di berbagai
kalangan.

Banyaknya ruang baru dan kolaborasi yang dihadirkan di festival tahun ini melibatkan komunitas sastra, bisnis baru, galeri, museum, hingga sanggar sebagai tempat berlangsungnya festival.

Mengembalikan geliat berkesenian dan sastra kembali setelah masa pandemi.

Yayasan melalui festival melakukan penandatangan kerja sama dengan henbuk.com, sebuah situs buku daring bagi penulis dan pembaca yang diwakilkan oleh Hendika Permana saat jumpa pers di The Ambengan Tenten, Denpasar.

Selain program utama dan acara spesial yang bertiket, Festival akan menghadirkan program -program gratis yang dapat diakses tanpa membeli tiket masuk, seperti peluncuran buku, program anak & remaja, musik dan pertunjukan seni, pameran seni, pemutaran film, dan program Festival Club.

“Program anak-anak dan remaja akan berlangsung selama festival secara gratis, melibatkan sekolah-sekolah lokal dan internasional. Tentu ini adalah misi dari UWRF untuk mengembangkan sastra sejak usia dini untuk Bali yang lebih baik,” ujar Janet DeNeefe, pendiri dan direktur Ubud Writers & Readers Festival.

Sebagai tuan rumah, puluhan penulis Bali seperti Made Adnyana Ole, Carma Citrawati, Anton Muhajir, Cok Sawitri, Kadek Sonia Piscayanti, Ni Made Purnamasari, Putu Juli Sastrawan, I Putu Supartika, Nyoman Darma Putra, Wayan Juniarta, Putik Padi, Cokorda Gde Bayu Putra, Wayan Agus Wiratama dan masih banyak lagi yang akan memeriahkan peluncuran buku, lokakarya, hingga diskusi-diskusi di Festival nanti.

Komunitas Bali Mendongeng dan Teater Kacak Kicak akan hadir pula dalam balutan program anak dan remaja bersama pembicara nasional dan internasional lainnya.

Salah satu pembicara UWRF, praktisi dan akademisi Cokorda Gde Bayu Putra yang nanti akan tampil di UWRF dalam sesi Bali: Is Beauty a Curse mengenai perubahan yang terjadi di Bali dan bagaimana pelestarian budaya tumbuh, menyebutkan bahwa dinamika yang terjadi saat ini tidak dapat dipisahkan dari perjalanan masa lalu yang dilukiskan dalam karya – karya klasik.

“Ubud itu mungkin sesungguhnya adalah desa pujangga, Festival ini tidak
mungkin bertahan sampai ke-19 jika pendahulunya bukan pujangga,” papar Cok Bayu.

Sedangkan penulis-penulis muda seperti Wayan Agus Wiratama yang lolos seleksi penulis emerging Indonesia tahun ini akan diberikan panggung-panggung yang intim untuk dapat bertukar pikiran dan pandangan dengan penulis-penulis yang hadir.

Ia menyebutkan kesempatan ini adalah hal yang luar biasa, “Saya merasa beruntung lolos di UWRF. Memang menjadi sesuatu yang diharapkan bagi semua orang, terutama untuk saya sendiri.” ujarnya.

Ia akan meluncurkan buku antologi bersama yang berisikan karya-karya terjemahan para penulis emerging Indonesia UWRF 2022 saat festival.

Made Adnyana Ole yang juga selaku dewan kurator seleksi penulis emerging Indonesia menambahkan,”Banyak nilai-nilai lokal yang diangkat, soal tradisi adat, dan kebiasan-kebiasan di suatu tempat. Banyak sastrawan yang mencoba untuk menemukan hal baru pada seleksi penulis emerging tahun ini.” jelasnya.

Tidak hanya mencakup pembicaraan tentang buku, pertunjukan Wayang Memamyu Hayuning Bawana oleh Dalang Ki Purbo Asmoro, festival juga menghadirkan musisi-musisi yang akan memeriahkan malam-malam di Ubud.

Dari Bali, Kai Mata dan Robi Navicula musisi, aktivis, penulis, dan petani yang berdomisili di Ubud. Menghadirkan musisi independen dan peneliti

Tidak hanya mencakup pembicaraan tentang buku, pertunjukan Wayang Memanyu Hayuning Bawana oleh Dalang Ki Purbo Asmoro, festival juga menghadirkan musisi-musisi yang akan memeriahkan malam-malam di Ubud.

Dari Bali, Kai Mata dan Robi Navicula musisi, aktivis, penulis, dan petani yang berdomisili di Ubud. Menghadirkan musisi independen dan peneliti Rara Sekar serta seorang musisi dan penulis lagu paling ditunggu di Ubud, Frau.

Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) ke-19 akan diadakan pada 27-23 Oktober di Ubud, Bali, Indonesia.

Festival ini merupakan salah satu proyek utama yang dilaksanakan tahunan oleh Yayasan Mudra Swari Saraswati.

Festival ini pertama kali digagas pada tahun 2004 oleh Janet DeNeefe, salah satu pendiri Yayasan, sebagai proyek penyembuhan dalam menanggapi Bom Bali pertama. Lebih lanjut tentang UWRF kunjungi www.ubudwritersfestival.com. (Red-TN)