Sehari – Hari Wajib Memberikan Persembahan Kepada Mahkluk Gaib Supaya Tidak Mengganggu

TARGETNUSA | DENPASAR BALI – Asura dan Sura menjadikan manusia sebagai tempat reinkarnasi atau medan penjelmaan. Yang dimaksud Iblis adalah golongan Asura seperti daitya, raksasa sedangkan jin merupakan turunannya, di Bali terdapat berbagai istilah untuk menyebut bangsa jin seperti samar agung, wong samar. 

Menurut Ngakan Putu Gede Udiana biasa disapa Aji Wisnu Segara Putra yang juga Wapimred TargetNusa ini bahwa, mahkluk gaib beraktifitas pada malam hari, sedangkan manusia pada siang hari. Oleh karena itu manusia tidak baik bekerja pada malam hari bisa dibuktikan dengan beberapa kejadian, bahwa jin seringkali dapat dilihat oleh orang yang memiliki kemampuan khusus pada saat sandikala dan menjelang pagi hari.

Lebih lanjut Aji Wisnu Segara Putra mengatakan mahkluk gaib yang benar – benar sakti dengan kekuatan negatif disebut Kala atau Bhuta Kala. “Setiap umat melaksanakan ritual selalu membuat banten caru untuk bhuta kala atau nyomia bhuta, dalam persembahan sehari – hari wajib mempersembahkan persembahan untuk golongan mahkluk gaib ini supaya tidak mengganggu, tujuannya untuk nyomia atau menetralisir kekuatan negatif bukan menyembah,” urai pria kelahiran Desa Serongga Gianyar Bali ini.

Aji Wisnu Segara Putra memaparkan yang diberi persembahan yakni kala bucari yaitu di tempat pintu keluar rumah, bhuta bucari yaitu di lebuh, pusat halaman rumah dan durga bucari yaitu di tepi jalan dekat pekarangan. Bilamana pekarangan rumah tergolong karang panes, ditambah lagi persembahan di palinggih Sanghyang Indra Belaka atau rajanya kala.

“Jadi konsep yang diterapkan dengan mahkluk gaib ini adalah dengan persahabatan, bukan permusuhan, mahkluk gaib diperlakukan bukan dengan permusuhan melainkan dengan cara persahabatan atau berdamai dengan mereka. Persahabatan bukan bersekutu dengan mahkluk gaib melainkan saling menghormati keberadaan masing – masing,” kata Aji Wisnu Segara Putra.

Sementara Jero Mangku Balian Balok Mahasurya menjelaskan bahwa cara mempersembahkan persembahan kepada sang wengi berbeda dengan pemujaan kepada dewa. Untuk sang wengi cukup dengan ngayabang, jangan menyembahnya karena hampir setara dengan manusia. Kepercayaan masyarakat umumnya rumah sang wengi ada di pohon yang sudah tua, adakalanya ditandai dengan rerumputan yang bisa bertahan puluhan tahun, paling banyak berada di goa yang ada di jurang.

“Mereka yang tinggal di jurang cenderung jahat, sedangkan yang tinggal di bukit kecil memiliki kekuasaan di alam mereka, sang wengi yang tinggal di bukit kecil seringkali diajak bersahabat oleh manusia, karena sifat baiknya dominan,” kata Jero Mangku Balian Balok Mahasurya.

Lebih lanjut Jero Mangku Balian Balok Mahasurya menyatakan terkait dengan tempat keramat yaitu semakin curam suatu tempat, misalnya jurang yang bersemayam disana mahkluk gaib yang rendah derajatnya. Sebaliknya semakin tinggi atau semakin suci suatu tempat, maka yang berdiam di sana mahkluk suci yang tinggi derajatnya.

“Kepercayaan masyarakat secara turun temurun mahkluk gaib sering hadir dalam mimpi dengan berbagai simbol dan wujud, baik berwujud manusia maupun binatang,” pungkas Jero Mangku Balian Balok Mahasurya.

Jero Mangku Balian Balok Mahasurya menjelaskan Leak bukan tergolong mahluk halus, leak adalah ilmu pengetahuan lebih tepat dikatakan ilmu kebatinan yang ada di Bali yang mampu membuat penekunnya merubah wujud menjadi bentuk lain sesuai dengan tingkatan ilmunya. Ilmu pengeleakan tidak bersifat menyakiti karena ilmu ini lebih condong ke dalam yakni meditasi atau bersemadi mengeksplore diri dan jiwa penekun ilmu leak. “Leak bukan mahluk gaib,” tegasnya.

 Jero Mangku Balian Balok Mahasurya memaparkan mahluk gaib yang tinggal di semak – semak, dibalik batu besar, pohon, dekat dengan perkampungan manusia umumnya senang bermain dengan anak – anak kecil, kebanyakan kasus menghilangnya anak kecil tidak pulang sampai larut malam, sering dipercaya disebabkan karena disembunyikan oleh Memedi.

“Pencarian anak hilang biasanya dilakukan dengan cara membunyikan gambelan gong disertai dengan menari sambil berjalan, karena memedi adalah mahluk halus yang suka bermain maka anak yang disembunyikan akan dilepas karena gamang atau memedi asik menari,” jelas Jero Mangku Balian Balok Mahasurya.

Aji Wisnu Segara Putra menjelaskan bahwa mahluk halus yang tinggal di sungai memiliki perawakan, bentuk tubuh, tingkah laku dan kehidupan yang nyaris sama dengan manusia mereka hidup berkelompok, juga memiliki desa yang nyaris sama dengan desa umumnya perbedaannya terletak pada desa dan penghuninya yang tidak kelihatan oleh mata telanjang, perbedaan ciri fisik antara tonya dengan manusia terletak pada lekukan kecil di bawah hidung yang tidak ada pada bangsa tonya.

“Penekun spiritual yang sudah matang ilmunya mampu berkomunikasi dengan tonya, kadang menghilang dan hidup berhari – hari dengan tonya. Tonya mahluk halus yang berbudaya, mereka menyukai keramain,” kata Aji Wisnu Segara Putra.

Lebih lanjut Aji Wisnu Segara Putra menjelaskan bahwa gamang adalah mahluk halus yang tinggal di sungai berbeda dengan tonya yang memiliki masyarakat, gamang lebih sering hidup terpisah dan menyendiri. Mengenai bentuk fisik sedikit buruk, rambut tergerai, kotor dan awut awutan.

“Masyarakat memiliki kepercayaan mistis serta hal – hal gaib yang sangat kental kepercayaan terhadap hal – hal mistis, yang cukup menarik masyarakat mengenal berbagai jenis makhluk halus yang mempunyai ciri khas berbeda dengan hantu atau makhluk halus di tempat lain. Untuk menghindari hal – hal yang tidak diinginkan mari kita selalu mendekatkan diri kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa supaya diberikan keselamatan lahir bathin dan terhindar dari mara bahaya,” pungkasnya.

Editor    : Ngakan Udiana
Sumber : Wawancara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *