Konflik Lahan Tanah di Desa Gunung Sari, Seririt Buleleng,Terus Memanas

TargetNusa.com | Buleleng – perselisihan sebidang tanah yang diatasnya berdiri fasilitas umum (fasum) di desa Gunung Sari, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, terus memanas pasalnya Ketut Pastika SH., selaku perbekel Gunung Sari mewakili masyarakatnya merasa keberatan terhadap terbitnya Sertifikat Hak Milik ((SHM) atas nama Made Astawa yang juga mantan perbekel Gunung Sari periode 2014 -2019, belum juga menemukan titik terang dan kejelasan.

Ketika dikonfirmasi oleh media TargetNusa Sabtu (25/07/2020), terkait kelanjutan dari mediasi pada hari Senin (20/07/2020) lalu, mengatakan dirinya sangat menyayangkan dari pihak Made Astawa tidak memenuhi panggilan untuk mediasi yang seharusnya masalah ini bisa diselesaikan dengan cara duduk bersama.

“Kami sekarang akan fokus pada desa pak, bagaimana desa yang saya pimpin ini masyarakatnya bisa sejahtera, aman, tentram dan nyaman”, kata Ketut Pastika kepada media TargetNusa di  kediamannya.

Masalah kasus tersebut sudah kami percayakan pada pendamping kami yaitu Komnaspan, lanjut Pastika, biar dia yang ngurusi semuanya. Kami akan fokus pada pembangunan desa kami, yang sudah menjadi tanggung jawab kami.

“Sebetulnya kami sudah mempunyai niat baik, kami selalu berusaha untuk melakukan mediasi dengan pihak Made Astawa, namun selalu gagal tidak ada titik temu, malah yang belakang ini dia tidak mau hadir, malah dia bilang kami hanya membuat dongengan dan dia tidak akan melakukan mediasi lagi, yaaa udah”, jelasnya.

Karena masyarakat percaya sama kami maka kamipun mempercayakan masalah ini kepada pendamping kami, kata Pastika.

“Dan terkait pelaporan ke Polres Buleleng, akan terus dikawal oleh pendamping kami, kami juga sudah siap dan kami juga punya bukti. Karena ini juga menyangkut kepentingan umum bukan kepentingan pribadi, dan ini semua  sudah menjadi kesepakatan adat, lembaga yang ada didesa, serta masyarakat”, terang kepala desa yang baru tujuh bulan menjabat di desa Gunung Sari.

Saya berharap kasus ini cepat selesai, walau bagaimanapun juga Made Astawa adalah warga kami, biar semuanya bisa nyaman dan tenang lanjut Pastika.

Kalau mau mediasi dan mau buka – bukaan sebetulnya enak, kasus ini cepat selesai, “kalau masalah SHM okelah tapi terbitnya sertifikat tersebut menyalahi aturan cacat hukum, kenapa saya bilang begitu?, karena saya punya bukti – buktinya”, jelasnya.

Dalam permohonan pengajuan sertifikat banyak kebohongan baik dari silsilah, obyek tanah, penandatangan penyanding yang tidak bisa tanda tangan kok tahu -tahu muncul tanda tangan dan masih banyak lagi yang lain dalam permohonan tersebut sarat dengan kebohongan, tegas Pastika. (Red-TN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *