Kuasa Hukum Made Astawa Tidak Akan Lakukan Mediasi

TargetNusa.com | Buleleng – Kisruh kepemilikan lahan di Desa Gunung Sari, Kecamatan Seririt, terus berlanjut.Badan Pertanahan Nasional (BPN) Buleleng mengambil langkah mediasi dengan mempertemukan para pihak yang bertikai juga gagal untuk mempertemukan.

Sebelumnya pihak BPN telah mengundang kedua belah pihak baik dari pihak Kepala Desa Gunung Sari mewakili warganya yang berkeberatan terhadap sebidang tanah yang diatasnya berdiri fasilitas umum dan pihak Made Astawa selaku pemegang sertifikat yang sah No.00887 Desa Gunung Sari, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng.

Nyoman Armini selaku pengacara dari pihak Made Astawa saat dihubungi oleh media TargetNusa pihaknya tidak akan melakukan mediasi kalau tidak jelas, apa lagi sudah beberapa kali dilakukan mediasi tidak pernah ada titik temu dan pihak perbekel Gunung Sari tidak membawa data sebagai pembanding.

Dan pada hari selasa (14/07/2020) “Kami juga hadir ke BPN namun pada hari itu pihak BPN bilang, mendadak ke Kanwil Denpasar, selanjutnya kami tidak mendapatkan undangan untuk mediasi lagi ke BPN, untuk apa kami hadir,” lanjutnya.

Jum’at (17/07/2020), Pihak Made Astawa sudah terima surat undangan untuk mediasi yang dikirim oleh BPN Buleleng yang akan dilakukan mediasi dengan pihak Perbekel Gunung Sari, pada hari Senin (20/07/2020). Namun lagi – lagi pihak Made Astawa tidak memenuhi undangan tersebut, karenanya mediasi tersebut dianggapnya tidak ada gunanya menurut Pengacaranya Made Astawa.

“Kami sebagai Pengacaranya dari Made Astawa dengan tegas bahwa tidak akan hadir untuk Mediasi, dan kami sudah kirim surat penolakan untuk hadir mediasi Senini, 20/07/202 (Hari ini -red)”, jelas I Nyoman Armini.

Disamping itu saat ini klien kami telah diadukan oleh Ketut Pastika, ke Polres Buleleng atas dugaan tindak
pidana pemalsuan surat Pasal 263 KUHP. Lanjut Armini.

“Kami menyatakan keberatan untuk datang menghadiri undangan mediasi
dari Ketut Pastika, yang tidak berlandasan hukum serta tidak memiliki data pembanding yang dapat
digunakan ketika melaksanakan mediasi”, kata Armini dengan jelas.

Menurutnya SHM atas nama Made Astawa No.00887 Desa Gunung Sari yang di keluarkan BPN Buleleng sudah sesuai prosedur, dalam permohonannya untuk mengurus sertifikat.

“Kalau pihak Perbekel memiliki bukti yang  kuat dan benar silahkan ajukan ke pengadilan, kami tunggu. Kami tidak akan layani hanya dengan cerita dan omong kosong, apa lagi mediasi yang sudah beberapa kali tidak pernah menemui titik temu”, tambahnya.

Kami sebagai penegak hukum selalu bekerja dengan bukti dan fakta bukan hanya dengan cerita dan dongengan  belaka dan kami bukan pembuat gaduh, kami hanya meluruskan dan membela apa yang menjadi haknya klien kami.

“Kalau tidak ada bukti sebagai pembanding tak perlu kami tanggapi itu hanya guyonan namanya, tapi kalau pihak perbekel memiliki bukti sebagai pembanding kami tunggu di pengadilan, lagian pihak kami selama ini tidak pernah meminta untuk mediasi, kami tegaskan kembali kami tidak akan mediasi dengan cara apapun kecuali pihak sana punya bukti kami tunggu di Pengadilan,” pungkas Armini. (Red-TN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *