Perbekel Gunung Sari Laporkan Made Astawa Lakukan Penyerobotan Lahan Fasium Kepolres Buleleng

TargetNusa.com | Singaraja РDitengah Pandemi Cobid-19 Desa Gunung Sari Kecamatan Seririt Kabupaten Singaraja terjadi ketegangan antara warga Gunung Sari dengan Mantan Kepala Desa Gunung Sari Made Astawa yang pernah menjabat sebagai kepala desa 2014- 2019 lalu, yang diindikasikan warga Gunung Sari telah melakukan penyerobot an lahan fasilitas umum, yang didalamnya ada bangunan Kantor Desa, Sekolah Dasar (SD) 1 dan 2 Gunung Sari, Poskesdes dan Sekolah TK.

Pihak Made Astawa yang merasa sudah memiliki SHM menurunkan alat berat ke lokasi untuk merobohkan bangunan yang ada diatas lahan yang diklaim miliknya atas dasar sertifat yang di keluarkan oleh BPN/ATR Buleleng.

Kepala Desa Gunung Sari Ketut Pastika SH., ditemui wartawan TargetNusa di kantornya Senin (22/6/2020) mengatakan memang benar telah terjadi keributan antara Made Astawa yang telah mengklaim hak atas tanah tersebut dengan warga Gunung Sari yang di tengarai telah terjadi penyerobotan lahan fasilitas umum di desanya.

“Kami sebagai Perbekel harus hadir ditengah – tengah masyarakat kami yang mempertahankan haknya apalagi itu fasilitas umum, kami harus perjuangkan hak warga kami namun kami selalu himbau pada warga kami, agar jangan sampai terjadi anarkis”, kata Ketut Pastika.

Kami harus turun tangan Lanjut Ketut Astawa dan kami sudah laporkan kasus ini ke Polres Buleleng, yang note bene pada saat Made Astawa menjabat sebagai kepala desa 2014-2019 dianggap secara sepihak mengambil alih lahan fasilitas umum diantaranya Kantor desa, bagunan SD 1 dan 2, poskesdes dan sekolab TK.

“Kantor desa dan SD-nya sudah dipindah sejak Made Astawa masih menjabat kepala desa namun Poskesdes dan TK masih tetap di situ”, jelas Pastika kepada TargetNusa.

Padal lahan tersebut sudah dihibahkan sudah lama sekitar 80 tahunan oleh orang tuanya Made Astawa yang juga pernah menjabat Kepala desa Gunung sari.

“Tahun 1940 sudah dibangun Sekolah Rakyat (SR) baru sampai kelas lll sampai tahun 1953 baru dibangun SD 1 dan 2 Gunung Sari, dan tahun 2001 dibangun Kantor Desa sampai 2018 dan di samping kantor desa ada Poskesdes dan TK yang masih ditempati sampaj saat ini”, beber Perbekel yang menjabat saat ini.

Dihari yang sama dan ditempat berbeda I Gede Suradnya selaku tokoh masyarakat juga mantan Kepala Desa Gunung Sari tahun 2007- 2013 silam, yang saat ini sebagai Ketua DPC Basus 88 Kabupaten Buleleng mengatakan hal yang sama terkait lahan Fasilitas Umum (Falsum) yang klaim hak milik oleh pihak Made Astawa.

“Pada masa saya masih menjabat sebagai kepala desa keluarga Made Astawa pernah mengajukan permohonan atas lahan tersebut, namun tidak bisa, entah kenapa sekarang kok tahu- tahu sudah muncul SHM yang diterbitkan eh BPN/ATR Buleleng, ada apa ini?”, kata Suradnya kepada TargetNusa di tempat Dia bekerja.

“SHM lahan tersbut dimohonkan lewat PTSL dan keluar tahun 2019 pada saat Made Astaqa masih menjabat sebagai Kepala desa setelah masa bakti saya selesai yaitu 2014- 2019”, beber Suradnya yang juga sebagai ketua DPC Basus di Buleleng. (Red-TN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *