Kandidat Rektor IKIP PGRI Bali Adu  Visi – Misi

TargetNusa.Com, Denpasar – Pemaparan Visi Misi dua kandidat Rektor IKIP PGRI Bali dihadapan Senat dan Yayasan yang menaungi Perguruan Tinggi. Hal ini menjadi femokrasi pendidikan yang bakal di tradisikan IKIP PGRI Bali sebagai pencetak tenaga pengajar yang handal dan berprestasi.

Dua kandidat tersebut adalah
Dr. I Made Suarta, SH., M.Hum sebagai kandidat yang sudah dua periode memimpin IKIP PGRI Bali dan Dr. Anak Agung Ngurah Adiputra, M.Pd.

I Made Suarta yang saat ini masih menjabat sebagai Rektor IKIP PGRI Bali memaparkan penekanan pada pembangunan prestasi di lingkungan akademis. Telah banyak prestasi dan kamajuan yang berhasil dicapai. Salah satunya bertambahnya jumlah dosen S2 dan S3 di kampus ini.

Made Suarta mampu membawa IKIP PGRI masuk ke peringkat 100 besar terbaik di Indonesia pada tahun 2016 lalu adalah prestasi yang cukup membanggakan.

“Saya selalu berusaha berbuat yang terbaik untuk lembaga ini.  Disisa usia saya menjabat, saya masih bisa melakukan hal-hal produktif sampai saat ini”.

Suarta juga  menargetkan  perubahan IKIP PGRI dari  Institut menjadi Universitas. Namun masih ada banyak kendala yang dihadapi sehingga target keluarnya ijin operasional universitas menjadi tertunda. Kalau bisa September 2018 sudah beroperasi.

Mengacu pada statuta atau aturan di PTS pengelolaan manajemen internal yang merupakan turunan dari AD/ART lembaga. Dikatakan Made Suarta, AD/ART organisasi PGRI pusat salah satunya mengatur, masa kepemimpinan rektor 4 tahun dan dapat diperpanjang 2 periode, dan bisa diberikan kesempatan sekali lagi apabila berprestasi

Lembaga ini harus berjalan dan berkembang dengan baik, dan pemilihan rektor seperti sekarang dan kedepan harus menjadi tradisi demokrasi di kampus IKIP PGRI.

Sementara, Dr. Anak Agung Ngurah Adiputra, M.Pd., memaparkan soal pengembangan Kampus di IKIP PGRI Bali. Bila terpilih nanti akan menggulirkan tiga program utama. Peningkatan SDM Civitas Akademika Kampus. Dan yang akan menjadi prioritas utama, agar kampus memiliki 5 orang guru besar.

Selain itu yayasan dan lembaga harus mempermudah proses tersebut. Karena itu modal utama lembaga ini akan berkembang.

Lembaga harus memiliki program magister paska sarjana dan peningkatan karya tulis dosen serta dana penelitian hibah juga menjadi konsentrasi dan prioritas untuk menaikkan grade lembaga.

Harapan dari yayasan kedepan, “Lembaga harus mampu meningkatkan peringkat menjadi A untuk bersaing dengan PTN,” tegas Ngurah Adiputra.

     (Han)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *