Ogoh – ogoh Sebelum Nyepi Merupakan Tradisi Umat Hindu Di Bali

TARGETNUSA.COM, BALI – Hari Raya Nyepi dirayakan pada setiap tahun Baru Caka. Yaitu pada hari Tilem Kesanga, yang merupakan hari pesucian Dewa-Dewa yang berada di pusat samudera yang membawa inti sarining air hidup (Tirtha Amertha Kamandalu).

Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon kehadapan Tuhan Yang Mahaesa, untuk menyucikan Bhuwana Alit (alam manusia) dan Bhuwana Agung (alam semesta).

Sehari sebelum Nyepi, umat Hindu biasanya melaksanakan upacara Butha Yadnya di perempatan jalan dan lingkungan rumah masing-masing,  tentu menurut kemampuannya.

Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisudha Bhuta Kala, dan segala ‘leteh’ (kotor), semoga sirna semuanya dan memohon keselamatan.

Setalah mecaru dilanjutkan dengan upacara pengerupukan,  menyebar-nyebar nasi tawur, mengobor – obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesui, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai. Hal ini dilakukan untuk mengusir Bhuta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar.

Khusus di Bali, pengrupukan ini biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Bhuta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian bila sudah selesai lalu dibakar.

Selesai mengarak Ogoh- ogoh tibalah Hari Raya Nyepi. Dan pada hari itu juga dilakukan puasa Nyepi yang disebut Catur Beratha Penyepian dan disertai dengan amati geni (tiada menghidupkan api, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mendengarkan hiburan. Hal ini dilakukan sejak sebelum matahari terbit.

   – han –

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *